Tanah 32 tahun kuasai PT Bio tidak Memberikan Kontibusi Kesejahteraan apa untuk Rakyat di Desa Penyangga.

Tanah 32 tahun kuasai PT Bio tidak Memberikan Kontibusi Kesejahteraan apa untuk Rakyat di Desa Penyangga.

Awal masuk kehadiran PT BIO
NUSANTARA TEKNOLOGI adalah mulai dari tahun 1982 yang berlokasi di desa Pondok
Kelapa, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah. Yang berlokasi di
seputaran sungai Penyengat dengan luasan awal ± 150 Ha dengan batas-batas
wilayahnya sebelah utara berbatasan dengan Desa Lubuk Langkap dan Desa Talang
Panjang, sebelah selatan berbatasan dengan Tik Kebilan dan Desa Kembang Ayun,
sebelah Timur berbatasan dengan Daerah Suka Pindah, dan Sebelah Barat
berbatasan dengan Desa Genting. Pada saat itu Bapak Idrus adalah penggarap
lahan tersebut sudah berlangsung selama 30 tahun atau sejak tahun 1950.

Aktifitas awal PT adalah dengan
melakukan pembibitan di seputar sungai Penyengat berlangsung sampai dengan
tahun1984. Kemudian aktivitas PT sempat berhenti di tahun 1984. PT melanjutkan
kembali aktifitas dari tahun 1986 dengan menambah luasan 300 Ha di lokasi Dusun
Penyebrang Batu. Masyarakat waktu itu masih menggunakan sistem ladang
berpindah. Sistem ladang berpindah tersebut digunakan masyrakat sebagai cara
tradiosional karena ketika lahan tersebut digunakan terus menurus maka hasil
tanamannya tidak akan maksimal. Setelah 3 tahun diistirahatkan masyrakat akan kembali menggarap lahan tersebut.
Masyarakat percaya sistem ini digunakan sebagai cara untuk mengoptimalkan
produksi tanaman mereka karena apabila digarap terus menerus maka tingkat
kesuburan tanah dan hasil pertanian yang didapatkan tidak akan maksimal. Ketika
perusahaan masuk awal tahun 1982 lahan-lahan tersebut dalam posisi tidak digarap
oleh masyarakat sehingga perusahaan melakukan aktifitas dengan alasan bahwa
mereka sudah memiliki izin prinsip.

Sejak tahun 1982-1988 proses
pembebasan lahan oleh perusahaan tidak pernah melakukan pergantian dalam bentuk
apapun baik pergantian tanam tumbuh maupun pergantian lahan itu sendiri. Pada
tahun 1988 terbit Peraturan Gubernur tentang Pedoman Pergantian Tanam Tumbuh
Masyarakat. Dalam PerGub tersebut Pasal satu (1) ayat lima (5) menyebutkan
bahwa pergantian tanam tumbuh untuk lahan yang tidak dikelola dengan baik
adalah sebesar Rp 500.000,00. Namun pihak perusahaan waktu itu hanya melakukan
pergantian yang menguntungkan pihak perusahaan saja. Di tahun 1982 lokasi kebun
masyarakat yang paling berdekatan dengan aktifitas perusahaan disebut masyarakat
daerah Suka Pinda dan Dusun Penyebrang Batu. Kebun masyrakat yang berada di
lokasi tersebut adalah kebun kopi. Kemudian sejak 1982-1984 pihak perusahaan
melakukan pelebaran luasan perusahaan dengan menebang kebun-kebun kopi
masyarakat. Pada waktu itu kebun Pak Madsa ditebangi pohon kopinya kemudian Pak
Madsa melakukan perlawanan sehingga ada penganiayaan dari pihak perusahaan
berupa tebasan celurit di kepala dan sampai sekarang bekas dari tebasan celurit
tersebut masih ada.

Tahun 2011 Desa Air Napal, desa
Kota Titik, desa Talang Tengah dan desa Tanjung Kepayang sepakat untuk
membentuk Forum Warga Semitul. Pada tanggal 15 Februari 2011 masyarakat
membentuk Forum Masyarakat Sungai Limau Bersatu (MSLB) yang terdiri dari 14
desa yang berbatasan langsung dengan HGU PT BNT dalam rangka menuntut hak
masyarakat atas lahan dan hak atas penghidupan yang layak yang diambil paksa
akibat prose Hak Guna Usaha (HGU). Pada 04 April Forum Masyarakat Sungai Limau
Bersatu (MSLB) melayangkan surat ke Kementerian HAM dalam rangka menuntuk hak
masyarakat. 05 Mei Forum Masyarakat Sungai Limau Bersatu (MSLB) melayangkan
surat ke DPRD kabupaten Bengkulu Tengah. Surat tersebut berupa permohonan
Pengembalian Tanah Marga di sekitar Perusahaan PT Bio Nusantara Teknologi. Pada
tanggal 16 Desember dilakukan mediasi penyelesaian konflik dengan menghasilkan
9 (Sembilan) kesepakatan. Diantara kesepakatan tersebut tidak ada yang berbunyi
bahwa perusahaan akan mengembalikan hak ulayat masyarakat dan akhirnya kepala
desa Air Napal Riskan Arif tidak menandatangani kesepakatan mediasi tersebut.
Bapak Riskan beranggapan bahwa kesepakatan tersebut tidak mengakomodasi
tuntutan masyarakat oleh karena itu akhirnya tidak menandatangani kesepakatan
tersebut.

Pada tahun 2019 Perusahaan mulai
mengalami permasalahan internal berupa pemangkasan jumlah karyawan secara
besar-besaran. Menurut keterangan masyarakat PT BNT sudah tidak beroperasi lagi
dengan ditandai Pabrik CPO Perusahaan berhenti beroperasi dan lahan-lahan PT
BNT sudah tidak dilakukan perawatan lagi bahkan panen sudah tidak dilakukan dan
buah-buah sawit akhirnya membusuk saja.

Pada Juni 2020 masyarakat Desa
Air Napal berinisiatif melakukan pemetaan desa dalam rangka melanjutkan
perjuangan menuntut pengembalian tanah marga oleh PT Bio Nusantara Teknologi.
September 2020 ada perwakilan dari PT BNT dan PT Sandabi Indah Lestari (SIL)
datang ke masyarakat dalam rangka sosialisasi bahwa mereka akan memperpanjang
izin HGU namun tentu saja masyarakat menolak dan akhirnya pihak perusahaan
tersebut pergi.

Senin, 22 Februari 2021 Sebanyak 70 Warga desa Air Napal
Kecamatan bang Haji Kabupaten bengkulu tengah melakukan pemagaran di jalur
akses menuju afdeling 9 PT Bio Nusantara Teknologi. Kegiatan ini diambil oleh
warga terkait aktivitas yang terus dilakukan oleh pihak PT bio di lahan yang
sekarang dalam status konflik antara masyarakat desa Air Napal dengan pihak PT
Bio Nusantara Teknologi. Sedangkan menurut keterangan salah satu warga desa Air
Napal Lamri, bahwa dalam pertemuan sebelumnya antara warga desa Air Napal dan
PT Bio Nusantara Teknologi yang difasilitasi oleh Pemerintah kabupaten Bengkulu
Tengah pada tanggal 16 Desember 2020 disepakati beberapa point kesepakatan
diantaranya agar kedua belah pihak menahan diri sebelum proses penyelesaian konflik
ini selesai. Salah satu poin penting dari pertemuan tersebut disepakati bahwa
akan dibentuk tim penyelesaian konflik yang melibat beberapa unsur dari
Pemerintahan Kabupaten bengkulu Tengah dan ATR/BPN Kabupaten bengkulu Tengah.

“Kami belum juga mendapatkan
kejelasan terkait tim yang mau dibentuk itu. Tapi pihak PT terus saja melakukan
aktivitas. Sudah beberapa hari kami amati sepertinya pihak PT tidak
memperdulikan point kesepakatan waktu pertemuan itu” ujar Lamri, salah satu
warga Desa Air Napal.

Berdasarkan SK BPN tentang Hak
Guna Usaha (HGU) Tanggal 14/08/1989 dengan Nomor 23/HGU/BPN/90 dengan Luasan
5.859 Ha. Izin tersebut akan berakhir pada 31 Desember 2025. Melihat kondisi
ini masyarakat desa Air Napal berinisiatif bersama seluruh warga desa Air Napal
untuk mewujudkan gerakan dalam mengembalikan tanah yang dulu menjadi lahan
kelola masyarakat agar hak penguasaan tanahnya dikembalikan ke masyarakat. Dalam
kesempatan ini warga Desa Air Napal menuntut:   

  1. Masyarakat
    menuntut agar proses penyelesaian konflik harus transparan dan melibatkan
    masyarakat desa Air Napal dalam Tim Penyelesaian Konflik
  2. Agar
    Pemerintah bisa mengakomodasi keinginan masyarakat agar tidak memperpanjang HGU
    PT Bio Nusantara Teknologi
  3. Mengembalikan
    tanah tersebut kepada masyarakat karena semenjak berdiri kehadiran PT Bio
    Nusantara teknologi tidak pernah memberikan kesejahteraan kepada masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *